pernyataan Kartini ini pasti akan mengejutkan banyak orang

Di antara 115 surat Raden Ajeng Kartini ternyata ada beberapa surat yang  kontroversial

Surat itu terkena sensor dan tak diterbitkan dalam buku Door Duisternis Tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) pada 1911. Salah satu majalah pernah menurunkan edisi khusus kartini beberapa waktu lalu.

Pengakuan Kartini yang menyebut dirinya sebagai anak Buddha bermula saat Kartini kecil sakit keras. Badannya menggigil. Dokter yang didatangkan ayahnya, Bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, tak sanggup mengobati anak tujuh tahun itu. Lalu datanglah seorang Cina yang sedang dihukum pemerintah Hindia Belanda bertamu ke rumahnya.

Salah satunya adalah suratnya yang soal Buddha

Laki-laki Cina itu sudah dikenal oleh tiga anak Sosroningrat. Dia menawarkan bantuan dengan meminta Kartini meminum air yang dicampur abu lidi hio (dupa) dari sebuah kelenteng di Welahan, kecamatan di Jepara, Jawa Tengah, tempat terdapat banyak rumah ibadah umat Konghucu. Ajaib. Demam Raden Ajeng turun dan ia sembuh.

Cerita itu kemudian ia tulis dalam surat untuk Nyonya Rosa Abendanon-Mandri, istri Direktur Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda. Dalam surat bertarikh 27 Oktober 1902, Kartini berapi-api menceritakan pengalaman itu. “Apa yang tak berhasil dengan obat-obatan kaum terpelajar ternyata berhasil dengan obat tukang jamu,” katanya.

Cerita itu ada dalam surat Kartini kepada Abendanon.
Oleh Abendanon. Surat-surat itu kemudian dikumpulkan.

Surat itu diterbitkan dalam judul Door Duisternis Tot Licht pada 1911.
Tujuh tahun setelah Kartini meninggal.

Secara harfiah kalimat Belanda itu berarti “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”
Penerbit Balai Pustaka pada 1922 menerjemahkannya menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang.

Ada beberapa surat Kartini yang berkisah tentang Buddha.

Kartini bahkan tak segan menyebut dirinya “anak Buddha” karena sudah meminum air hio(dupa) saat sakit itu.
Ketahuilah Nyonya tulisnya kepada Abendanon, “bahwa saya anak Buddha, dan itu sudah menjadi alasan mengapa saya tak makan daging” Seperti nada dalam seluruh surat, kalimat Kartini terasa tulus, tanpa pretensi dan motif ketika bercerita tentang apa saja.

Setahun sebelum menulis surat itu ia mengunjungi Welahan, kampung tempat tabib yang mengobati Kartini.
Bagaimanapun saya mesti belajar kenal dengan bapak saya yang besar itu
ujarnya tentang Santik-kong,
arwah leluhur orang Welahan yang disucikan di kelenteng tersebut.
Di sana ia menyaksikan upacara memperingati ulang tahun arwah.

Santik-kong terkenal sebagai dewa penyembuh.
Setiap ada wabah yang berjangkit, patungnya diarak berkeliling desa agar asap dupanya menyebar menangkal virus. Dan desa itu biasanya terhindar dari kuman.
Kartini mencoba memberikan pemahaman yang logis kepada Abendanon, yang tak percaya kepada takhayul.

MEGAPOKER88 Judi Poker Domino QQ Online Uang Asli Indonesia Terpercaya

Poker Online Terpercaya | Poker Uang Asli | Domino Online

x

Check Also

Inilah yang akan terjadi jika belum menikah setelah usia 35 tahun

Di Indonesia sendiri , usia menikah biasanya adalah dibawah 30 tahun. Diatas umur 30 tahun, ...

Gus Mus : Anda sapa ? berani sekali,allah disuruh urus pilkada

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Mustofa Bisri menyoroti banyak kontestan di Pilkada serentak ...