Bisakah Indonesia Jadi Negara Besar? Ini Kata Sri Mulyani

Menjadi negara besar dengan masyarakat adil dan makmur memang banyak tantangannya. Namun, Indonesia memiliki modal tersebut.

Berita Politik – Hal tersebut diungkapkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, saat memberi kuliah umum di Universitas Gadjah Mada dengan tema Sadar APBN, Yogyakarta, Rabu (23/8/2017).

Sri Mulyani menyebutkan, untuk menuju sebagai negara yang besar, Indonesia telah memiliki modal, baik secara geografis yang mana Sumber Daya Alam yang melimpah, serta Sumber Daya manusia yang banyak.

“Ada 250 juta penduduk dan terbesar kelima, dengan usia produktif paling banyak, kita punya modal, letak geografis maupun SDA yang kita miliki,” kata Sri Mulyani.

Namun, mantan direktur pelaksana Bank Dunia ini mengatakan, masih banyak tantangan serta pekerjaan rumah yang harus dibenahi untuk benar-benar menjadikan Indonesia sebagai negara yang besar.

Tantangan pertama terkait dengan indeks pembangunan manusia (IPM) yang saat ini masih berada di level 70. Meski meningkat, namun masih harus terus diperbaiki.

Tantangan lainnya adalah, rata-rata pendidikan yang dinikmati oleh masyarakat Indonesia baru mencapai 8 tahun. Padahal untuk menciptakan SDM yang berkualitas setidaknya sistem pendidikan di Indonesia telah mencapai 16 tahun dengan gelar strata satu (S1).

Lalu tantangan selanjutnya adalah, terkait dengan pendapatan per kapita orang Indonesia yang mencapai Rp 10,4 juta. “Istilah ini middle low, bukan middle up, Rp 10,4 juta oke tapi tidak oke,” tambah dia.

Tantangan yang selanjutnya berada pada sektor Programme for International Student Assessment (PISA). Di mana, peringkat dan capaian nilai pelajar yang menguasai matematika dan membaca Indonesia masih berada di urutan 62 dari total 69 negara.

Indonesia, kata Sri Mulyani, juga masih dihadapkan dengan persoalan kemiskinan dan ketimpangan, meskipun isu dua sektor ini menjadi permasalahan seluruh dunia.

“Makanya presiden banyak memberikan porsi untuk memperbaiki banyak aspek, ini adalah achievement tapi sekaligus tantangan,” kata dia.

Tidak hanya itu, tantangan selanjutnya yang harus dibenahi sebelum menjadikan Indonesia sebagai negara yang besar, adil dan makmur, terkait dengan tingkat kesehatan. Indonesia harus menjamin tingkat kesehatan 1.000 hari sejak janin masih dalam kandungan.

“Kalau ada ibu pasti di tahu first day dia di inception 1.000 hari pertama the most critical, untuk menjadi manusia yang sehat, brain otaknya pada 1.000 hari pertama full development agar berkembang secara maksimal, kalau dia kurang gizi maka tidak akan menjadi manusia yang sama meskipun umurnya 5 dikasih susu yang bergizi tinggi, atau sekolah dikasih asupan tambahan, lalu SMP dikasih vitamin banyak, dikasih daging biar badannya gemuk, yang gemuk badanya tetapi otaknya tidak gemuk,” jelas dia.

“Is just that important, Indonesia memiliki 30% anak kita status kurang gizi, menkes bilang kuntet, atau kerdil, ciri kurang gizi adalah kuntet atau kerdil, tapi jangan bilang yang pendek dia kuntet,” sambung dia.

Tantangan yang terakhir adalah mengenai penyediaan infrastruktur, baik dasar maupun infrastruktur yang mengintegrasikan daerah satu dengan yang lain, seperti jalan, jembatan, dan lainnya.

Menurut Sri Mulyani, dengan income per kapita Indonesia yang sekitar US$ 3.500 per tahun, membuat perkembangan infrastruktur di tanah air masih di bawah dari garis standar.

“Kita tidak di atas rata-rata, yang di atas rata-rata itu India, Malaysia, China, kita di batas saja tidak, ini karena kita sudah cukup lama tidak membangun infrastruktur, dan APBN kita selama semenjak 97-98 hingga sekarang lebih fokus kepada konsolidasi dan stabilisasi,” tukas dia.

MEGAPOKER88 Judi Poker Domino QQ Online Uang Asli Indonesia Terpercaya

Poker Online Terpercaya | Poker Uang Asli | Domino Online

x

Check Also

Polri dan MUI sepakat untuk menindak setiap ormas yang melakukan aksi sweeping

Kepolisian Daerah Provinsi Jawa Barat (Polda Jabar) melarang setiap organisasi masyarakat (ormas) untuk melakukan razia ...

Setelah HTI, FPI juga bakal di bubarkan? ini kata wiranto

Pemerintah akhirnya membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Salah satu alasan HTI dibubarkan karena dinilai membahayakan ...